Selasa, 16 November 2010

OKSIDIMETRI / PERMANGANOMETRI

LAPORAN PRAKTIKUM MODUL V

A. Judul : OKSIDIMETRI / PERMANGANOMETRI
B. Tujuan : Untuk menetapkan kadar besi(II) dalam garam Fero
C. Dasar Teori
Dalam golongan ini termasuk peniteran kalium permanganate, KMnO4. Kadang-kadang dipergunakan pengoksida- pengoksida lain,misalnya kalium dikromat.
Dalam lingkungan asam dua molekul permanganate dapat melepaskan lima atom oksigen ( bila ada zat yang dapat dioksidasi oleh oksigen itu).
2KMnO4 + 3H2SO4 K2SO4 + 2 MnSO4 + 3 H2O + 5O
Karena larutan KMnO4 mempunyai warna tersendiri maka tidak diperlukan penunjuk. Satu tetes larutan KMnO4 0,1 N dalam menghasilkan warna.
Supaya larutan KMnO4 yang baru dibuat tidak berubah titrannya, harus dibiarkan dulu selama 1 minggu. Selama itu zat-zat organic yang masing terkandung dalam larutan itu akan dioksidasi, sehingga terbentuk MnO2.
2KMnO4 + H2O 2MnO4 + 2KOH + 3O
MnO4 yang merupakan katalis bagi perurain lebih lanjut. Setelah dibiarkan selama satu minggu, larutan disaring melalui penyaring asbes atau penyaring kaca maser,kemudian larutan disimpan dalam botol berwarna coklat. Supaya reaksi dengan larutan KMnO4 berlangsung cepat, biasanya penitren dilakukan dalam keadaan panas 600 C.
Metode permanganometri didasarkan pada reaksi oksidasi ion permanganate. Oksidasi ini dapat berlangsung dalam suasana asam, netral dan alkalis.
MnO4- + 8H+ + 5e Mn2+ + 4H2O
Kalium permanganate dapat bertindak sebagai indikator dan umumnya titrasi dilakukan dalam suasana asam karena akan lebih mudah mengamati titik akhir titrasinya. Namun ada sejumlah senyawa yang lebih mudah dioksidasi dalam suasana netral atau alkalis, contohnya hidrasi, sulfide, sulfide dan tiosulfat.
Reaksi dalam suasana netral :
MnO4 + 4H+ + 3e MnO2 + 2H2O
Kenaikan konsentrasi ion hydrogen akan menggeser reaksi ke kanan. Reaksi dalam suasana alkalis :
MnO4- + 3e MnO42-
MnO42- + 2H2O + 2e MnO2 + 4OH-
Reaksi ini lambat dalam suasana asam, tetapi sangat cepat dalam larutan netral. Karena alasan ini larutan kalium permanganat jarang dibuat dengan melarutkan jumlah-jumlah yang ditmbang dari zatnya yang sangat dimurnikan misalnya proanalisis dalam air, lebih lazim adalah untuk memanaskan suatu larutan yang baru saja dibuat sampai mendidih dan mendiamkannya di atas penangas uap selama 1 atau 2 jam lalu menyaring larutan itu dalam suatu penyaring yang tak mereduksi seperti wol kaca yang telah dimurnikan atau melalui krus saring dari kaca maser.
Sebagai contoh, permanganate adalah agen unsure pengoksida yang cukup kuat untuk mengoksida Mn (II) menjadi MnO2 sesuai dengan persamaan.
3Mn2+ + 2MnO4- + 2H2O 5MnO2 + 4H+
Titrasi dengan KMnO4 sudah dikenal lebih dari 100 tahun. Kebanyakan titrasi dilakukan dengan cara langsung atas alat yang dapat dioksidasi seperti Fe+, asam atau garam oksalat yang dapat larut dan sebagainya. Beberapa ion logam yang tidak dioksidasi dapat dititrasi secara tidak langsung dengan permanganatometri seperti :
1) Ion – ion Ca, Ba, Se, Pb, Zn, dan Hg (I), yang dapat diendapkan sebagai oksalat. Setelah endapan disaring dan dicuci dilarutkan dalam H2SO4 berlebih sehingga terbentuk asam oksalat secara kuantitatif. Asam oksalat inilah yang akhirnya dititrasi dan hasil titrasi dapat dihitung banyaknya ion logam yang bersangkutan.
2) Ion-ion Ba dan Pb dapat pula diendapkan sebagai garam kromat. Setelah disaring, dicuci dandilarutkan dengan asam ditambahkan pula larutan baku FeSO4 berlebih sebagian Fe2+ dioksidasi oleh kromat tersebut dan sisanya dapat ditentukan banyaknya dengan menitrasinya dengan KMnO4.
Sumber-sumber kesalahan pada titrasi pada permanganometri,antara lain terletak pada: larutan penititer KMnO4 pada buret. Apabila percobaan dilakukan dalam waktu yang lama,larutan KMnO4 pada buret yang terkena sinar akan terurai menjadi MnO2 sehingga pada titik akhir titrasi akan diperoleh pembentukan presipitat coklat yang seharusnya adalah larutan berwarna merah rosa. Penambahan KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan seperti H2C2O4. Pemberian KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan H2C2O4 yang telah ditambahkan H2SO4 &telah dipanaskan cenderung menyebabkan reaksi antara MnO4- dengan Mn2++MnO4-+ 3Mn2+ + 2H2O 5MnO2 + 4H+
Penambahan KMnO4 yang terlalu lambat pada larutan seperti H2C2O4.Pemberian KMnO4 yang terlalu lambat pada larutan H2C2O4 yang telah ditambahkan H2SO4 dan telah dipanaskan mungkin akan terjadi kehilangaan oksalat karena membentuk perioksida yang kemudian terurai menjadi air.
H2C2O4 + O2 H2O2 + 2CO2 .
H2O2 H2O + O2
Hal ini dapat menyebabkan pengurangan jumlah KMnO4 yang diperlukan untuk titrasi yang pada akhirnya akan timbul kesalahan titrasi permanganometri yang dilaksanakan.













D. Alat & Bahan

 Alat

1.Neraca Analitik 2.Labu Erlenmeyer 100 ml 3.Gelas Kimia





4.Pipet Tetes 5.Gelas Ukur 6.Labu takar





7.Batang Pengaduk 8. Corong






 Bahan
1. Contoh ferosulfat
2. Larutan KMnO4 0,1 N
3. Larutan H2SO4
4. Aquades


E. Prosedur Kerja.






























F. Hasil Pengamatan dan Perhitungan.
Oksidimetri/permanaganometri.
a. Penetapan kadar besi (II) dalam garam fero
N KMnO4 0,1 N
V1 & V2 (terbentuk warna merah muda)
MnO4- + 4H+ + 3e MnO2 + 2H2O
1 mol = 3 ek
1 ek = 1/3 mol

gr = N x V x BE
= 01, N x 1 L x 77,52 gr/ek
= 0,1 ek/L x 1 L x 77,52 gr/ek
= 7,752 gr





Dik : P H2SO4 = 18,4 kg/L
% H2SO4 = 97 %
Mr H2SO4 = 98,08 gr/mol
V2 H2SO4 = 250 ml
Dit : V1 H2SO4……?
Penye :



M1V1 = M2V2


G. Pembahasan
Pada percobaan ini oksimetri & Permanganometri, dimana permanganometri adalah salah satu cara analisis tipe reaksi oksidasi reduksi ( reaksi redoks), pada proses titrasi KMnO4 digunakan sebagai titran. Kalium permanganan adalah oksidator kuat yang dapat bereaksi dengan suatu reduktor menghasilkan senyawa mangan yang mempunya bilangan oksidasi yang berbeda-beda tergantung pada pH larutan.
Tujuan percobaan ini adalah untuk menetapkan kadar besi (II) dalam garam Fero. Langkah pertama yang dilakukan membuat larutan KMnO4 0,1 N sebanyak 7,752 gr ditimbang kemudian dilarutkan dengan aquades pada labu takar 100 ml dengan menggunakan botol semprot yang berisi aquades semprot dinding labu takar sampai 1 cm dibawah garis etsa, kemudian gunakan pipet tetes, pipet sampai larutan berada dibawah garis meniskus karena larutan berwarna.
2 KMnO4 + H2O 2 MnO2 + 2 KOH + 3O
MnO2 yang terbentuk itu merupakan katalis bagi peruraian lebih lanjut.
Kedalam 2 buah erlenmeyer, masing-masing masukan 2 ml larutan FeSO4-. 7H2O kemudian tambahkan 25 ml H2SO4 4 N.Selanjutnya dititrasi dengan KMn O4 0,1 N sampai terjadi perubahan warna yaitu dari tak berwarna sampai brubah warna menjadi merah muda. Pada percobaan ini ditambahkan asam sulfat untuk mengasamkan larutan karena dalam lingkungan asam dua molekul permanganate dapat melepaskan lima atom oksigen.
2KMnO4 +3H2SO4 K2 SO4 + 2 MnSO4 + 3H2O + 5O

Dalam percobaan ini tidak ditambahkan indikator, indikator yang digunakan berasal dari pereaksinya sendiri, dengan kata lain menggunakan indikator sendiri (auto indikator) yaitu KMnO4.Larutan KMnO4 0,1 N dalam 200 ml air akan menghasilkan warna.
Pada saat terjadi perubahan warna pada proses titrasi, hentikan proses titrasi dan lakukan sekali lagi titrasi.Lihat volume KMnO4 yang dipakai untuk digunakan dalam menetapkan kadar besi (II)dalam garam Fero, kadar besi (II)dalam garam Fero yang diperoleh pada percobaan ini adalah 3,686 %
Pertama kali bijih besi dilarutkan dalam asam klorida,selanjutnya seluruh besi yang ada direduksi menjadi Fe2+ dengan Sn2+.Setelah semua besi berada sebagai Fe2+, maka kadarnya dapat ditentukan dengan cara titrasi permanganometri
5Fe2+ + MnO4- 5Fe3+ + Mn2+ + 4H2O
Penentuan besi dalam biji-biji besi adalah salah satu aplikasi terpenting dalam titrasi –titrasi permanganate. Asam terbaik untuk melarutkan biji besi adalah asam klorida dan timah (II)klorida sering ditambahkan untuk membantu proses kelarutan.
Sebelum dititrasi dengan permanganate setiap besi (III)harus direduksi menjadi besi(II). Reduksi ini dapat dilakukan dengan reduktor jones atau dengan timah (II)klorida. Reduktor jones lebih disarankan jika asam yang tersedia adalah sulfat mengingat tidak ada ion klorida yang masuk.
Jika larutannya mengandung asam klorida seperti terjadi reduksi dengan timah (II)klorida akan lebih memudahkan. Klorida ditambahkan kedalam larutan panas dari sampelnya dan perkembangan reduksi diikuti dengan memperhatikan hilangnya warna kuning dari ion besi.
8H+ + 5Fe2+ + MnO4- Mn2+ + 5Fe3++ 4H2O
Warna feri dihilangkan dengan penambahan H3PO4 kompleks Fe(HPO4)+ yang stabil. Kelebihan sedikit dari permanganate yang hadir pada titik akhir titrasi cukup untuk mengakibatkan terjadinya pengendapan.
Tindakan pencegahan khusus harus dilakukan alam pembuatan larutan permanganate. MnO2 mengkatalis dekomposisi larutan permanganate. Jejak-jejak dari MnO2 yang semula ada dalam permanganate. Atau terbentuk akibat reaksi antara permanganate dengan jejak-jejak dari agen-agen produksi didalam air, mengarah pada dekomposisi. Tindakan ini biasanya berupa larutan kristal-kristalnya, pemanasan untuk mrnghancurkan substansi yang dapat dieiduksi dan penyaringan melalui asbestos atau gelas yang diseter untuk menghilangkan MnO2. larutan tersebut kemudian distandarisasi dan jika disimpan dalam gelap dan tidak diasamkan kosentrasinya tidak akan banyak berubah selama beberapa bulan.

H. Kesimpulan
Dari hasil percobaan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan :
1. Titrasi permanganometri dapat digunakan untuk menentukan kadar besi dalam satu sample.
2. Pada percobaan indikator yang digunakan berasal dari pereaksinya sendiri. yaitu KMnO4

I Kemungkinan kesalahan.
1. Kurangnya kosentrasi pratikan-pratikan selama proses praktikum berlangsung.
2. Kurang teliti dalam mencampurkan larutan.
3. Kurang teliti dalam membersikan alat praktikum.











Daftar Pustaka
 Teaching, team. 2008. Modul Penuntun Praktikum DDKA. Gorontalo : UNG
 P. lukum, astin. 2005. Bahan Ajar DDKA.Gorontalo : UNG
 http :// id.wikipedia. org/wiki/permanganometri
 BASSET. J dan DENNER R.C. 1994. vogel. Kimia Anasisis Kualitatif Anorganik. Penerbit buku kedokteran ; Jakarta.
 DAY. J. Y. dan UNDERWOOD A. L. 2002. Analisis Kimia Kualitatif.
 http ://medicafarma. Blogspot.com/2008/04/Pemanganometri. erlangga : Jakarta.
 http://mgmpkimiasumbar.wordpress.com/category/pengenalan-alat-labor/



















MODUL PERCOBAAN VI
A Judul : Yodometri dan Yodimetri
B. Dasar Teori
Dasar : I2 + 2e 2I-
Yodometri : bila I- sebagai reduktor
Yodimetri : bila I- sebagai oksidator
Yodometri I- (+) oksidator
Sebagai I- biasa dipakai KI. Reaksi dapat berlangsung dalam lingkungan asam atau netral. Contoh :
BrO3 + 6 H+ + 6I- 3 H2O + 3 I2 + Br-
IO3 + 6H++5I- 3 H2O + 3 I2
Dalam yodometri I- dioksidis suatu oksidator. Jika oksidatornya kuat tidak apa-apa, tetapi jika oksidatornya lemah maka oksidasinya berlangsung sangat lambat dan mungkin tidak sempurna, ini harus dihindari.
Cara menghindari :
- Mempebesar [H+]
Jika oksidasinya kuat dengan menambah H+ atau menurunkan pH
- Memperbesar [I-]
Misalnya oksidasi dengan Fe3+
Fe3+ + I- Fe2+ + ½ I2
- Dengan mengeluarkan I2 yang berbentuk dari campuran reaksi : misalnya dikocok dengan kloroform, karbon tetra klorida atau bisulfida, maka I2 akan masuk dalam pelarut organis ini, sebab I2 lebih mudah larut dalam senyawa solven organic daripada dalam air.
Cara menentukan titik akhir titrasi
- Tanpa indikator
Dapat dilakukan karena I2 dalam KI warna kuning, titrasi akhir kalau warna kuning hilang
- Dengan indikator amilum
Sebab I2 + amilum menghasilkan warna biru. Makin sensitive bila berisi I- dan kurang sensitive bila larutan panas
Yodometri adalah titrasi yang menggunakan larutan Na2S2O3 sebagai titran untuk menentukan kadar iyodium yang dibebaskan pada suatu reaksi redoks. Reaksi yang terjadi adalah
Oksidator +2I- I2 + reduktor
I2 + S2O32- 2I- + S4O62-S
Diantara sekian banyak contoh teknik atau dalam analisis kuanitatif terdapat 2 cara melakukan analisis dengan menggunakan senyawa pereduksi iodium yaitu secaa lagsung dan tidak langsung. Cara langsung disebut iodimetri(digunakan larutan iodium untuk mengoksidasi reduktor-reduktor yang dapat dioksidasi secaa kuantitatif pada titik ekivalennya). Namun,metode iodimetri ini jarang dilakukan mengingat iodium sendiri merupakan oksidator yang lemah. Sedangkan cara tidak langsung disebut iodometri(oksidator yang dianalisi kemudian direaksikan dengan ion iodide berlebih dalam keadaan yang sesuai yang selanjutnya iodium dibebaskan secara kuantitatif dan dititrasi dengan larutan natrium tiosulfat stndar atau asam arsenit).
Reaksi-reaksi kimia yang melibatkan oksidasi reduksi dipergunakan secara luas oleh analisis titrimetrik. Ion-ion dari berbagai unsur dapat hadir dalam kondisi oksidasi yang berbeda-beda, menghasilkan kemungkinan banyak reaksi redoks. Banyak dari reaksi-reaksi ini memenuhi syarat untuk dipergunakan dalam analisi titrimetrik dan penerapan-penerapannya cukup banyak.
Iodometri adalah analisa titrimetrik yang secara tidak langsung untuk zat yang bersifat oksidator seperti besi( III), tembaga (II), dimana zat ini akan mengoksidasi iodida yang ditambahkan membentuk iodin. Iodin yang terbentuk akan ditentukn dengan menggunakan larutan baku tiosulfat .

Oksidator + KI → I2 + 2e
I2 + Na2 S2O3 → NaI + Na2S4O6

Sedangkan iodimetri adalah merupakan analisis titrimetri yang secara langsung digunakan untuk zat reduktor atau natrium tiosulfat dengan menggunakan larutan iodin atau dengan penambahan larutan baku berlebihan. Kelebihan iodine dititrasi kembali dengan larutan tiosulfat.

Reduktor + I2 → 2I-
Na2S2O3 + I2 → NaI +Na2S2O6

Untuk senyawa yang mempunyai potensial reduksi yang rendah dapat direksikan secara sempurna dalam suasana asam. Adapun indikator yang digunakan dalam metode ini adalah indikator kanji.Sedangkan bromometri merupakan metode oksidasi reduksi dengan dasar reaksi aksidasi dari ion bromat .

BrO3- + 6H+ + 6e → Br- + 3H2O

Adanya kelebihan KBrO3 dalam larutan akan menyebabkan ion bromida bereaksi dengan ion bromat

BrO3 + Br- + H+ → Br2 +H2O

Bromine yang dibebaskan akan merubah warna larutan menjadi kuning pucat (warna merah ), jika reaksi antara zat dan bromine dalam lingkungan asam berjalan cepat maka titrasi dapat secara langsung dilakukan. Namun bila lambat maka dapat dilakukan titrasi tidak langsung yaitu larutan bromine ditambah berlebih dan kelebihan bromine ditentukan secar iodometri. Bromin dapat diperoleh dari penambahan asam kedalam larutan yang mengandung kalium bromat dan kalium bromide.
Substansi-substansi penting yang cukup kuat sebagai unsur-unsur reduksi untuk dititrasi langsung dengan iodin adalah tiosulfat, arseni dan entimon, sulfida dan ferosianida. Kekuatan reduksi yang dimiliki oleh dari beberapa substansi ini adalah tergantung dari pada konsentrasi ion hydrogen, dan reaksi dengan iodin baru dapat dianalisis secara kuantitatif hanya bila kita melakukan penyesuaian ph yang sulit.

Dalam menggunakan metode iodometrik kita menggunakan indikator kanji dimana warna dari sebuah larutan iodin 0,1 N cukup intens sehingga iodin dapat bertindak sebagai indikator bagi dirinya sendiri. Iodin juga memberikan warna ungu atau violet yang intens untuk zat-zat pelarut seperti karbon tetra korida dan kloroform. Namun demikan larutan dari kanji lebih umum dipergunakan, karena warna biru gelap dari kompleks iodin–kanji bertindak sebagai suatu tes yang amat sensitiv untuk iodin. ytu
Dalam beberapa proses tak langsung banyak agen pengoksida yang kuat dapat dianalisis dengan menambahkan kalium iodida berlebih dan mentitrasi iodin yang dibebaskan. Karena banyak agen pengoksid yang membutuhkan larutan asam untuk bereaksi dengan iodin, Natrium tiosulfat biasanya digunakan sebagai titrannya. Titrasi dengan arsenik membutuhakn larutan yang sedikit alkalin.
Dalam larutan yang sedikit alkalin atau netral, oksidasi menjadi sulfat tidak muncul terutama jika iodin dipergunakan sebagai titran. Banyak agen pengoksid kuat, seperti garam permanganat, garam dikromat yang mengoksid tiosulfat menjadi sulfat, namun reaksinya tidak kuantitatif.
Pada penentuan iodometrik ada banyak aplikasi proses iodometrik seperti tembaga banyak digunakan baik untuk biji maupun paduannya metode ini memberikan hasil yang lebih sempurna dan cepat daripada penentuan elektrolit tembaga.
Pada metode bromometri, kalium bromat merupakan agen pengoksid yang kuat dengan potensial standar dari reaksinya

BrO3 + 6H+ + 6e → Br- + 3H2O

Adalah +1,44 V. Reagen dapat digunakan dalam dua cara yaitu sebagai sebuah oksdasi langsung untuk agen-agen pereduksi tertentu dan untuk membangkitkan sejumlah bromin yang kuantitasnya diketahui.
Sejumlah agen pereduksi pada titrasi langsung metode bromometri seperti arsenik, besi (II) dan sulfida serta disulfida organik tertentu dapat dititrasi secara langsung dengan sebuah larutan kalium bromat .
Kehadiran bromin terkadang cocok untuk menentukan titik akhir titrasi,
beberapa indikator organik yang bereaksi dengan bromin untuk memberikan perubahan warna. Perubahan warna ini biasanya tidak reversibel dan kita harus hati-hati agar kita mendapatkan hasil yang lebih baik .
Reaksi brominasi senyawa-senyawa organik larutan standar seperti kalium bromat dapat dipergunakan untuk menghasilkan sejumlah bromin dengan kuantitas yang diketahui. Bromin tersebut kemudian dapat digunakan untuk membrominasi secara kuantitatif berbagai senyawa organik. Bromide berlebih hadir dalam kasus-kasus semacam ini, sehingga jumlah bromin yang dihasilkan dapat dihitung dari jumlah KBrO3 yang diambil. Biasanya bromin yang dihasilkan apabila terdapat kelebihan pada kuantitas yang dibutuhkan untuk membrominasi senyawa organik tersebut untuk membantu memaksa reaksi ini agar selesai sepenuhnya.
Reaksi bromin dengan senyawa organiknya dapat berupa subtitusi atau bisa juga reaksi adisi.
2 Yodimetri
Dalam hal ini I2 sebagai oksidator,maka harus direaksikan dengan suatu oksidator. Reduktor ada 2 macam : reduktor kuat & reduktor lemah
Dengan reduktor kuat berlangsung sempurna,cepat dan dapat juga berlangsung dalam lingkungan asam
Contoh :










C. Alat & bahan
 Alat
1.Neraca Analitik 2.Labu Erlenmeyer 100 ml 3.Gelas kimia



4.Pipet Tetes 5.Gelas ukur 6.Batang Pengaduk



7.Buret 8.Pipet Volume




9.Labu Takar 10. statif & klem 11.corong





 Bahan
1..Aquades 4. Larutan KI 20 %
2.Larutan Na2S2O3 5. Larutan H2SO4 4 N
3.Larutan KIO3





D. Prosedur kerja
 Yodometri

a. Pembuatan larutan standar Natrium Tiosulfat 0,1 N
Na2S2O3
- ditimbang 24,8 gr
- dilarutkan dengan aquades 1 L
- disimpan dibotol reagen
- ditambahkan 1 tetes kloroform

Hasil titrat




b. standarisasi dengan larutan KIO3

KIO3 0,1 N

-pipet larutan 10 ml ke dalam Erlenmeyer
- tambahkan 5 ml KI 20%
- tambahkan 8 ml H2SO4 4 N
- iod yang dibebaskan dititar dengan larutan natrium
Tiosulfat hingga warna kuning
-tambahkan indikator amilum
- dititrasi terus hingga warna biru hilang
- mengulangi percobaan duplo
Hasil titrat








c. penetapan Cu (II) dalam CuSO4.5H2O
CuSO4.5H2O
-ditimbang 1 gr
- dilarutkan dengan aquades
- dimasukan kedalam labu ukur 50 ml
-dikocok









- Dipipet 5 ml kedalam Erlenmeyer
- Ditambahkan KI 20% 25 ml & H2SO4 4 N 25
mL
- Dititrasi dengan Na2S2O3 hingga warna merah
Muda
- Ditambahkan amilum 5 tetes
- dititrasi kembali dengan Na2S2O3 sampai warna biru hilang






 Yodimetri
a.Standarisasi larutan Iod 0,1 N


-ditimbang 6,35 gr pada botol timbang
-masukkan dalam labu ukur 500 ml
- tambahkan 20 gr KI
- larutkan dalam 40 ml aquades
- encerkan sampai 500 ml
- pipet larutan 10 ml dalam labu Erlenmeyer
- titrasi dengan larutan Na2S2O3 setelah warna
merah muda
-Tambahkan indikator amilum 5 tetes
- titrasi dilakukan hingga warna biru hilang
- dilakukan duplo















E. Hasil Pengamatan & Perhitungan
A..Yodometri
1. Standarisasi dengan larutan KIO3
( terbentuk warna coklat & endapan hitam)
- Labu titrasi I
Na2S2O4 +KI + H2SO4 yang dipakai : 47,7 ml
Na2S2O4 +KI + H2SO4 yang dipakai + indikator : 1,4 ml
- Labu titrasi II
Na2S2O4 +KI + H2SO4 yang dipakai :36 ml
Na2S2O4 +KI + H2SO4 yang dipakai + indikator :0,8 ml

2. Penetapan Cu (II)dalam CuSO4.5H2
Na2S2O4 +KI + H2SO4 yang dipakai : 7,2 ml
Na2S2O4 +KI + H2SO4 yang dipakai + indicator : 1,4 ml
 sebelum titrasi (terbentuk warna coklat muda)
 setelah titrasi (terbentuk warna bening)

B. Yodimetri

1. Standarisasi larutan iod
-Labu titrasi I
Na2S2O4 +KI + H2SO4 yang dipakai : 9 ml
Na2S2O4 +KI + H2SO4 yang dipakai + indikator : 1 ml
-Labu titrasi II
Na2S2O4 +KI + H2SO4 yang dipakai :10,2 ml
Na2S2O4 +KI + H2SO4 yang dipakai + indikator : 0,8 ml
 sebelum titrasi (terbentuk warna coklat muda)
 setelah titrasi (terbentuk warna bening)



F. Pembahasan
Dalam percobaan ini,iodometri & iodimetri dimana dalam titrasi iodometri tak langsung menggunakan larutan Na2S2O3 sebagai titran untuk menentukan kadar iodium yang dibebaskan pada suatu reaksi redoks dimana reaksi yang terjadi adalah :
Oksidator + 2I- I2 + reduktor
I2 + 2S2O32- 2I- + S4O62-
1. Pembuatan larutan standar Na2S2O3 0,1 N
Dimana langkah pertama yang dilakukan adalah membuat larutan standar Na2S2O3 0,1 N sebanyak 24,8 gr yang dilarutkan dalam aquades,dalam labu ukur 100 ml .
Na2S2O3 0,1 N
Gr = M x Mr x L
= 0,1 N x 24,8 gr x 0,1 L
= 0,248 gr
Titik akhir titrasi ditetapkan dengan bantuan indikator kanji, yang ditambahkan sesaat sebelum titik akhir tercapai. Warna biru kompleks iodium kanji akan hilang pada saat titik akhir titrasi..
Larutan Na2S2O3 adalah standar sekunder karena sifatnya tidak stabil terhadap oksidasi dari udar,asam dan adanya bakteri pemakan belerang yang terdapat dalam pelarut.. Larutan Na2S2O3 0,1 N yang telah dibuat digunakan sebagai titran dalam penentuan Cu(II)dalam CuSO4.5H2O.
2. Penentuan Cu (II)dalam CuSO4.5H2O

Langkah yang harus pertama kali dilakukan dalam percobaan ini adalah 1 gr CuSO4.5H2O ditimbang & dilarutkan dengan aquades dalam labu ukur 50 ml kemudian dipipet 5 ml kedalam Erlenmeyer,ditambahkan 25 ml KI 20% dan H2SO4 4 N. KI 20 % ditimbang 20 gr kemudian dilarutakan dalam 100 ml, aquades dalam labu ukur. Sedangkan cara pembutan larutan H2SO4 4 N adalah melarutkan 10 ml H2SO4 dalam 100 ml aquades


.Reaksi yang terjadi antara Na2S2O3 dengan KIO3 adalah :
IO3- + 5I- + 6H+ 3 I2 + 3H2O
3I- + 6 S2O32- 6I- + 3S4O62-
IO3- + +6 S2O32 + 6H+ I- + 3S4O62- + 3H2O

Jadi, BE IO3- = Mr / 6 = 35,67
Dalam percobaan ini terbentuk larutan yang ditambahkan dengan Na2S2O3 berwarna coklat & endapan hitam.

G. Kesimpulan
Dari hasil percobaan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan :
1. Pada percobaan ini iodometri & iodimetri menggunakan larutan Na2S2O3 sebagai titran untuk menentukan kadar iodium
2. Titik akhir titrasi ditentukan dengan bantuan indikator amilum pada saat warna biru hilang

H. kemungkinan kesalahan
. 1. Kurangnya kosentrasi pratikan-pratikan selama proses praktikum berlangsung
2. Kurang teliti dalam mencampurkan larutan
3. Kurang teliti dalam membersikan alat praktikum










Daftar Pustaka

 Teaching, team. 2008. modul penuntun praktikum DDKA. Gorontalo : UNG
 P. lukum, astin. 2005. bahan ajar DDKA.Gorontalo : UNG
 DAY. J. Y. dan UNDERWOOD A. L. 2002. analisis kimia kualitatif.EDISI VI.Jakarta : Erlangga
 Dirjen.POM.1979.Farmakope Indonesia Edisi III.Jakarta : Departemen kesehatan RI
 http ://medicafarma. Blogspot.com/2008/04/IODOMETRI-IODIMETRI.
Jakarta : Erlangga
 http://mgmpkimiasumbar.wordpress.com/category/pengenalan-alat-labor/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar