Selasa, 16 November 2010

identifikasi senyawa organic yang mengandung oksigen

BAB I
PEBDAHULUAN


1.1. LATAR BELAKANG
Senyawa organik merupakan suatu golongan besar senyawa yang dikaji secara khusus dalam kimia organik, banyak manfaat dalam kehidupan manusia. Ada yang berwujud bahan makanan , bahan sandang, obat-obatan, kosmetik dan berbagai jenis plastik. Bahkan dalam tubuh pun banyak terdapat sejumlah senyawa organik dengan fungsi yang beragam pula.
Kata organik merupakan istilah yang digunakan pada awal perkembangan ilmu kimia yang ditandai oleh adanya pengelompokan senyawa-senyawa kimia menjadi dua golongan besar, yaitu senyawa organik dan anorganik.
Senyawa organik dapat diperoleh dari minyak bumi dan batu bara yang selanjutnya dimanfaatkan sebagai bahan pembangun untuk membuat senyawa organik yang lebih besar dan strukturnya lebih rumit.
Pada umunya senyawa organik mengandung unsur-unsur C, H, O, N, halogen, belerang dan fosfor. Senyawa organik mudah terbakar dan memberikan hasil akhir CO2, H2O, dan hasil-hasil lainya, tergantung pada unsur-unsur penyusunnya. Pengaruh panas terhadap senyawa organik dapat mengakibatkan perubahan tertantu dan mungkin terjadi dekomposisi. Sebagian basar senyawa organik tidak dapat larut dalam air tetapi larut dalam pelarut organik.



1.2. TUJUAN
Dari percobaan ini diharapkan mahasiswa dapat mempelajari sifat-sifat dan reaksi-reaksi gugus fungsional melalui kegiatan laboratorium.


BAB II
KAJIAN TEORI

2.1. TEORI SINGKAT
Alkohol merupakan senyawa seperti air yang satu hidrogennya diganti oleh rantai atau cincin hidrokarbon. Sifat fisis alkohol, alkohol mempunyai titik didih yang tinggi dibandingkan alkana-alkana yang jumlah atom C nya sama. Hal ini disebabkan antara molekul alkohol membentuk ikatan hidrogen. Rumus umum alkohol R – OH, dengan R adalah suatu alkil baik alifatis maupun siklik. Dalam alkohol, semakin banyak cabang semakin rendah titik didihnya. Sedangkan dalam air, metanol, etanol, propanol mudah larut dan hanya butanol yang sedikit larut. Alkohol dapat berupa cairan encer dan mudah bercampur dengan air dalam segala perbandingan.
Berdasarkan jenisnya, alkohol ditentukan oleh posisi atau letak gugus OH pada rantai karbon utama karbon. Ada tiga jenis alkohol antara lain alkohol primer, alkohol sekunder dan alkohol tersier. Alkohol primer yaitu alkohol yang gugus –OH nya terletak pada C primer yang terikat langsung pada satu atom karbon yang lain contohnya : CH3CH2CH2OH (C3H7O). Alkohol sekunder yaitu alkohol yang gugus -OH nya terletak pada atom C sekunder yang terikat pada dua atom C yang lain. Alkohol tersier adalah alkohol yang gugus –OH nya terletak pada atom C tersier yang terikat langsung pada tiga atom C yang lain.
Alkohol alifatik merupakan cairan yang sifatnya sangat dipengaruhi oleh ikatan hidrogen. Dengan bertambah panjangnya rantai, pengaruh gugus hidroksil yang polar terhadap sifat molekul menurun. Sifat molekul yang seperti air berkurang, sebaliknya sifatnya lebih seperti hidrokarbon. Akibatnya alkohol dengan bobot molekul rendah cenderung larut dalam air, sedangkan alkohol berbobot molekul tinggi tidak demikian. Alkohol mendidih pada temperatur yang cukup tinggi.
Sebagai suatu kelompok senyawa, fenol memiliki titik didih dan kelarutan yang sangat bervariasi, tergantung pada sifat subtituen yang menempel pada cincin benzena.
Reaksi-reaksi yang terjadi dalm alkohol antara lain reaksi substitusi, reaksi eliminasi, reaksi oksidasi dan esterifikasi. Dalam suatu alkohol, semakin panjang rantai hidrokarbon maka semakin rendah kelarutannya. Bahkan jika cukup panjang sifat hidrofob ini mengalahkan sifat hidrofil dari gugus hidroksil. Banyaknya gugus hidroksil dapat memperbesar kelarutan dalam air.
Salah satu gugus fungsi yang kita yaitu aldehid. Aldehid adalah suatu senyawa yang mengandung sebuah gugus karbonil yang terikat pada sebuah atau dua buah atom hidrogen. Nama IUPEC dari aldehida diturunkan dari alkana dengan mengganti akhiran “ana“ dengan “al“. Nama umumnya didasarkan nama asam karboksilat ditambahkan dengan akhiran dehida.
Keton adalah suatu senyawa organik yang mempunyai sebuah gugus karbonil terikat pada dua gugus alkil, dua gugus alkil, atau sebuah alkil. Keton juga dapat dikatakan senyawa organik yang karbon karbonilnya dihubungkan dengan dua karbon lainnya. Keton tidak mengandung atom hidrogen yang terikat pada gugus karbonil.
Pembuatan keton ynag paling umum adalah oksidasi dari alkohol sekunder. Hampir semua oksidator dapat dipakai. Pereaksi yang khas antara lain khromium oksida (CrO3), phiridinium khlor kromat, natrium bikhromat (Na2Cr2O7) dan kalium permanganat (KMnO4).
Fenol atau asam karbolat atau benzenol adalah zat kristal tak berwarna yang memiliki bau khas. Rumus kimianya adalah C6H5OH dan strukturnya memiliki gugus hidroksil (-OH) yang berikatan dengan cincin fenil.
Fenol memiliki kelarutan terbatas dalam air, yakni 8,3 gram/100 ml. Fenol memiliki sifat yang cenderung asam, artinya ia dapat melepaskan ion H+ dari gugus hidroksilnya. Pengeluaran ion tersebut menjadikan anion fenoksida C6H5O− yang dapat dilarutkan dalam air.
Dibandingkan dengan alkohol alifatik lainnya, fenol bersifat lebih asam. Hal ini dibuktikan dengan mereaksikan fenol dengan NaOH, di mana fenol dapat melepaskan H+. Pada keadaan yang sama, alkohol alifatik lainnya tidak dapat bereaksi seperti itu. Pelepasan ini diakibatkan pelengkapan orbital antara satu-satunya pasangan oksigen dan sistem aromatik, yang mendelokalisasi beban negatif melalui cincin tersebut dan menstabilkan anionnya.
Asam asetat, asam etanoat atau asam cuka adalah senyawa kimia asam organik yang dikenal sebagai pemberi rasa asam dan aroma dalam makanan. Asam cuka memiliki rumus empiris C2H4O2. Rumus ini seringkali ditulis dalam bentuk CH3-COOH, CH3COOH, atau CH3CO2H. Asam asetat murni (disebut asam asetat glasial) adalah cairan higroskopis tak berwarna, dan memiliki titik beku 16.7°C.
Asam asetat merupakan salah satu asam karboksilat paling sederhana, setelah asam format. Larutan asam asetat dalam air merupakan sebuah asam lemah, artinya hanya terdisosiasi sebagian menjadi ion H+ dan CH3COO-. Asam asetat merupakan pereaksi kimia dan bahan baku industri yang penting. Asam asetat digunakan dalam produksi polimer seperti polietilena tereftalat, selulosa asetat, dan polivinil asetat, maupun berbagai macam serat dan kain. Dalam industri makanan, asam asetat digunakan sebagai pengatur keasaman. Di rumah tangga, asam asetat encer juga sering digunakan sebagai pelunak air. Dalam setahun, kebutuhan dunia akan asam asetat mencapai 6,5 juta ton per tahun. 1.5 juta ton per tahun diperoleh dari hasil daur ulang, sisanya diperoleh dari industri petrokimia maupun dari sumber hayati.
Bagi kebanyakan orang kata eter dikaitkan dengan anestesi. Eter yang dimaksud adalah hanyalah salah satu anggota kelompok eter, yaitu senyawa yang mempunyai dua gugus organik melekat pada atom oksigen tunggal. Rumus umum eter ialah R-O-R’, yang R dan R’-nya bisa sama atau berbeda, gugusnya dapat berupa alkil atau aril. Pada anestesi umum kedua R-nya adalah gugus etil. CH3CH2-O-CH2CH3.
Eter merupakan isomer atau turunan dari alkohol (unsur H pada OH diganti oleh alkil atau aril). Eter mengandung unsur C, H, dan O.
2.2. Karakteristik Bahan Yang Digunakan
Senyawa alkohol atau alkanol dapat dikatakan senyawa alkana yang satu atom H–nya diganti dengan gugus –OH (hidroksil). Rumus umum senyawa alkohol adalah R–OH dimana R adalah gugus alkil. Untuk itu rumus umum
golongan senyawa alkohol juga dapat ditulis CnH2n+1 – OH.
Berdasarkan perbedaan letak terikatnya gugus –OH pada atom C. Alkohol dibedakan menjadi tiga yatiu :
 Alkohol primer yaitu jika gugus –OH terikat pada atom C primer (atom C yang mengikat 1 atom C yang lain secara langsung )
Contoh :
CH3 – CH2 – CH2 – CH2 – OH
n-Butanol
 Alkohol sekunder yaitu jika gugus –OH terikat pada atom C sekunder (atom C yang mengikat secara langsung dua atom C yang lain).
Contoh :
CH3 – CH2 – CH – CH3
|
OH
2-Butanol
 Alkojol tersier yaitu jika gugus –OH terikat pada atom C tersier ( atom C yang mengikat secara langsung tiga buah atom C yang langsung )
Contoh :
CH¬3
|
CH3 – CH – CH2 – CH3
|
OH
2-metil-2-butanol
Eter atau alkoksi alkana adalah golongan senyawa yang mempunyai dua gugus alkil yang terikat pada satu atom oksigen. Dengan demikian eter mempunyai rumus umum :
R–O–R’
Dimana R dan R’ adalah gugus alkil, boleh sama boleh tidak
Contoh :
CH3–CH2–O–CH2–CH3 R = R’ (eter homogen)
CH3–O–CH2–CH2–CH3 R ≠ R’ (eter majemuk)
Berbeda dengan senyawa-senyawa alkohol, eter mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :
1. Titik didih rendah sehingga mudah menguap
2. Sulit larut dalam air, karena kepolarannya rendah
3. Sebagai pelarut yang baik senyawa-senyawa organik yang tak larut dalam air
4. Mudah terbakar
5. Pada umumnya bersifat racun
6. Bersifat anastetik (membius)
7. Eter sukar bereaksi, kecuali dengan asam halida kuat (HI dan H Br)
Asam asetat, asam etanoat atau asam cuka adalah senyawa kimia asam organik yang dikenal sebagai pemberi rasa asam dan aroma dalam makanan. Asam cuka memiliki rumus empiris C2H4O2. Rumus ini seringkali ditulis dalam bentuk CH3-COOH, CH3COOH, atau CH3CO2H. Asam asetat murni (disebut asam asetat glasial) adalah cairan higroskopis tak berwarna, dan memiliki titik beku 16.7°C.
Singkatan yang paling sering digunakan, dan merupakat singkatan resmi bagi asam asetat adalah AcOH atau HOAc dimana Ac berarti gugus asetil, CH3−C(=O)−. Pada konteks asam-basa, asam asetat juga sering disingkat HAc, meskipun banyak yang menganggap singkatan ini tidak benar. Ac juga tidak boleh disalahartikan dengan lambang unsur Aktinium (Ac).

BAB III
METODE



3.1. ALAT DAN BAHAN
 Alat






Beaker gelas

(Gelas Kimia) Rak Tabung Reaksi Tabung Reaksi



 Bahan







Na2CO3 FeCL3






Reagen Benedict Etanol NaOH







CuSO4




3.2. PROSEDUR KERJA
1. Uji Cerry Amonium Nitrat


- Memasukkan kedalam tabung reaksi
- Mengencerkan dengan 3 ml dioksan dan dikocok sampai rata (dioksan dapat diganti dengan aquadest jika yang diuji larut dalam air)
- Menambahkan 1 ml larutan yang diuji
- Mencatat perubahan yang terjadi perubahan warna



- Menunjukkan bahwa terdapat gugus hidroksil pada senyawa yang diuji
- Pengujian ini membedakan alkohol, fenol, dan asam-asam hidroksil dari senyawa yang lain
- Uji positif untuk alkohol ditunjukkan oleh perubahan warna kuning kemerahan
- Fenol memberi warna kemerahan sampai coklat dalam larutan dioksan
- Aldehid dapat memberi warna sebentar, warna ini akan memucat dalam waktu 3-5 menit






2. Uji Besi (III) Klorida




- Menguji zat-zat yang memberikan reaksi positif dengan Cerry Amonium Nitrat dengan 1 ata 2 tetes larutan Besi (III) Klorida 1 %.




3. Uji Luccas



- Zat-zat yang bereaksi dengan Cerry amonium Nitrat tetapi tidak memberi warna ungu dengan Besi (III) Klorida dapt diuji dengan pereaksi Lukas.
- Menambahkan 1 ml pereaksi Lukas pada sebut tabung dan menmbahkan 5 tetes zat yang tidak diketahui yang mungkin merupakan suatu alkohol
- Mengocok dan mengamati pembentukan larutan keruh atau larutan memisah 2 lapisan




- bereaksi dalam 1 menit
- Tidak bereaksi









4. Uji Natrium Karbonat untuk asam


- Menambahkan beberapa tetes masing-masing zat yang tidak bereaksi dengan Cerry Amonium Nitrat pada tabung yang sudah berisi 1 ml larutan Natrium Karbonat 0,5 M
- Dapat digunakan beberapa butir kristal Natrium Karbonat untuk kurang lebih 1 ml larutan
- Jika zat memang asam diuji lanjut dengan menambahkan beberapa tetes air pada beberapa zat yang diuji dengan kertas lakmus














5. Uji Benedict


- Memasukkan kedalam tabung reaksi sebanyak 0,5 volumenya
- Menambahkan 1 ml larutan Natrium Hidroksida 1 M
- Dicampur dibagi beberapa tabung untuk menguji semua zat yang tidak bereaksi dengan Cerry Amonium Nitrat dengan Natrium Karbonat



- Menambahkan 5 atau 6 tetes zat yang diuji dalam tabung yang berisi larutan diatas
- Memanaskan diatas penangas air
- Mencatat perubahan warna yang terjadi bervariasi









6. Uji Iodoform


- Menambahkan 4 -5 tetes masing-masing zat yang akan diuji pada sebuah tabung reaksi yang berisi ± 1 ml metana
- Menambahkan 5 tetes larutan NaOH 5 M
- Mencampurkan, menambahkan larutan iod dalam Kalium Iodida sampai terjadi warna kuning pucat (membutuhkan ± 20 tetes)
- Meletakkan tabung reaksi pada penangas air
- Bersuhu ± 60°C
- Mengidentifikasi baunya













7. Uji Hidrolisis Ester



- Memasukkan ± 1 ml kedalam tabung reaksi
- Menambahkan ± 2 ml aquadest dan dikocok
- Mendiamkan selama 15 menit
- Mengocok
- Menguji dengan kertas lakmus biru


















BAB IV
HASIL DAN PENGAMATAN

4.1. HASIL PENGAMATAN
1. Uji Besi (III) Klorida
Perlakuan Hasil pengamatan
 1 ml ditambah 2 tetes larutan besi klorida  Terjadi perubahan warna yaitu larutan kuning
 1 ml fenol ditambah 2 tetes larutan besi klorida  Terjadi perubahan warna yaitu warna ungu
 1 ml asam asetat ditambah 2 tetes larutan besi klorida  Terjadi perubahan warna yaitu warna orange
 1 ml eter ditambah 2 tetes larutan besi klorida  Terjadi perubahan warna yaitu warna kuning muda
2. Uji Natrium Karbonat
Perlakuan Hasil pengamatan
 NaCO3 ditambah eter  Larutan menjadi bening
 NaCO3 ditambah asam asetat  Adanya gelembung gas saat diteteskan asam asetat kedalam tabung
 NaCO3 ditambah etanol  Sedikit berwarna (merah muda pucat)
 NaCO3 ditambah fenol  Larutan berubah menjadi kuning dan berminyak
 Diuji keasaman masing-masing zat yang diuji dengan menambahkan beberapa tetes  Tidak terjadi perubahan
 Diuji dengan kertas lakmus biru  Dari semua zat yang diuji hanya asam asetat yang menunjukkan senyawa asam yaitu memerahkan kertas lakmus biru
3. Uji Benedict

Perlakuan Hasil pengamatan
 0,5 ml pereaksi benedict ditambah 1 ml NaOH  Warna merah muda
 Larutan dibagi kedalam 4 tabung reaksi (etanol, fenol, asam asetat, eter)  Etanol : biru pudar lebih muda dari warna semula
 Fenol : hijau kekeruhan dan terdapat endapan hijau
 Asam asetat : hijau muda
 Eter : biru muda seperti warna semula
 Semua larutan dipanaskan dalam penangas air  Semua larutan tidak dapat diuji benedict karena tidak ada perubahan warna

4. Uji Iodoform

Perlakuan Hasil pengamatan
 5 tetes eter ditambah 1 ml metanol ditambah 5 tetes NaOH ditambah 20 tetes Iod  Bening, setelah ditambah menjadi bening muda
 5 tetes fenol ditambah 1 ml metanol ditambah 5 tetes NaOH ditambah 20 tetes Iod  Bening, setelah ditambah iod tidak ada perubahan warna
 5 tetes asam ditambah 1 ml metanol ditambah 5 tetes NaOH ditambah 20 tetes Iod  Bening, setelah ditambah iod menjadi merah bata
 5 tetes etanol ditambah 1 ml metanol ditambah 5 tetes NaOH ditambah 20 tetes  Bening, setelah ditambah iod menjadi kuning pucat
5. Uji Ester

Perlakuan Hasil pengamatan
 1 ml fenol ditambah 2 ml aquadest  Warna putih susu dan terdapat endapan putih
 1 ml eter ditambah 2 ml aquadest  Tidak saling bercampur, larutan menjadi 2 lapisan
 1 ml asam asetat ditambah 2 ml aquadest  Warnanya bening
 Larutan dari asam asetat ditambah 2 ml aquadest diuji dengan kertas lakmus biru  Menunjukkan terjadi warna merah pada kertas lakmus biru
 Larutan dari fenol ditambah 2 ml aquadest diuji dengan kertas lakmus biru  Tidak menunjukkan warna merah pada kertas lakmus biru
 Larutan dari eter ditambah 2 ml aquadest diuji dengan kertas lakmus  Tidak menunjukkan warna merah pada kertas lakmus biru
 Larutan dari etanol ditambah 2 ml aquadest diuji dengan kertas lakmus  Menunjukkan perubahan warna merah pada kertas lakmus biru











4.2. PEMBAHASAN
Pada percobaan dengan judul “identifikasi senyawa organic yang mengandung oksigen” terdiri atas pengujian uji besi (III) klorida, uji natrium karbonat, uji benedict, uji iodoform, dan uji ester. Uji benedict adalah uji kimia untuk mengetahui kandungan gula (karbohidrat) pereduksi. Gula pereduksi meliputi semua jenis monosakarida dan beberapa disakarida seperti laktosa dan maltosa.
Pada uji Benedict, pereaksi ini akan bereaksi dengan gugus aldehid, kecuali aldehid dalam gugus aromatik, dan alpha hidroksi keton. Oleh karena itu, meskipun fruktosa bukanlah gula pereduksi, namun karena memiliki gugus alpha hidroksi keton, maka fruktosa akan berubah menjadi glukosa dan mannosa dalam suasana basa dan memberikan hasil positif dengan pereaksi benedict.
Secara teknis, hidrolisis adalah sebuah reaksi dengan air. Reaksi inilah yang sebenarnya terjadi ketika ester dihirolisis dengan air atau dengan asam encer seperti asam hidroklorat encer.
Hidrolisis ester dengan basa melibatkan reaksi dengan ion-ion hidroksida, tetapi hasil keseluruhannya sangat mirip sehingga dikategorikan dalam hidrolisis dengan air atau asam encer.
Hidrolisis menggunakan air atau asam encer
Reaksi dengan air murni sangat lambat sehingga tidak pernah digunakan. Reaksi ini dikatalisis oleh asam encer, sehingga ester dipanaskan di bawah refluks dengan sebuah asam encer seperti asam hidroklorat encer atau asam sulfat encer.
Untuk percobaan ini sampel yang diberikan dan yang akan diuji adalah etanol, fenol, asam asetat, dan eter.

1. Uji Besi (III) Klorida
Pada percobaan ini kita menambahkan masing-masing 1 ml sampel dengan 2 tetes besi klorida. Sampel tersebut adalah etanol, fenol, asam asetat, dan eter. Hal yang pertama kita lakukan adalah menambahkan 1 ml etanol dengan 2 tetes larutan besi klorida, setelah ditambahkan terjadi perubahan warna pada larutan yaitu warna kuning. Selanjutnya kita menambahkan 1 ml fenol dengan 2 tetes larutan besi klorida dan terjadi perubahan warna yaitu ungu. Kemudian menambahkan 1 ml asam asetat dengan 2 ml larutan besi klorida dan warna berubah menjadi orange. Dan yeng terakhir adalah menambahkan 1 ml eter dengan 2 ml larutan besi klorida dan warna pun berubah yaitu menjadi kuning muda.
2. Uji natrium karbonat
Pada percobaan ini kita menambahkan masing-masing sampel tadi dengan 1 ml natrium karbonat 0,5 M. Untuk yang pertama kali setelah NaCO3 ditambahkan dengan eter larutan menjadi bening. Dan pada fenol ketika ditambahkan NaCO3 larutan berubah menjadi kuning dan berminyak. Pada NaCO3 ketika ditambahkan asam asetat nampak adanya gelembung gas saat diteteskan asam asetat kedalam tabung. Begitu juga etanol ditambahkan kedalam tabung yang telah berisi NaCO3 terjadi sedikit perubahan warna yaitu merah muda pucat.

3. Uji benedict
Hal yang pertama kita lakukan pada percobaan ini adalah memasukkan pereaksi kedalam 5 tabung reaksi yang volumenya sama yaitu sebanyak 0,5 ml dan ditambahkan 1 ml larutan NaOH 1 M dan terjadi perubahan warna yaitu warna biru. Kemudian pada masing-masing tabung reaksi ditambahkan sampel yang telah diberikan. Untuk tabung yang pertama menambahkan etanol yang sebelumnya telah berisi campuran Benedict dan NaOH, warna yang ditimbulkan adalah biru pudar lebih muda dari warna sebelumnya. Pada tabung yang kedua ditambahkan fenol dan terjadi perubahan warna yaitu hijau kekeruhan dan juga terdapat endapan hijau, hal ini menandakan bahwa fenol tidak larut sempurna pada campuran tersebut. Pada tabung ketiga ditambahkan asam asetat dan warna berubah menjadi hijau muda. Dan pada tabung keempat ditambahkan eter dan tidak terjadi perubahan warna, yaitu masih tetap warna semula biru muda.
4. Uji iodoform
Untuk uji iodoform kita memasukkan 5 tetes masing-masing sampel kedalam masing-masing tabung reaksi pula, warna keseluruhan sampel ketika dimasukkan kedalam tabung adalah bening. Dan pada setiap tabung ditambahkan 1 ml methanol, 5 tetes NaOH, dan 20 tetes iod. Untuk eter setelah ditambahkan yang sebelumnya berwarna bening berubah menjadi kuning muda. Pada fenol tidak terjadi perubahan warna yaitu tetap bening. Untuk asam asetat setalah ditambahkan berubah menjadi merah bata. Dan pada tabung keempat yaitu etanol setelah ditambahkan berubah menjadi kuning pucat.
5. Uji ester
Untuk uji ester masing-masing sampel yang telah diberikan kita masukkan kedalam masing-masing tabung reaksi sebanyak 1 ml. Pada setiap tabung ditambahkan masing-masing 2 ml aquadest. Pada fenol ketika ditambahkan aquadest terjadi perubahan warna yaitu warna putih susu dan terdapat endapan putih, ini berarti fenol tidak dapat larut sempurna dalam air. Dan pada eter setelah ditambahkan aquadest tidak saling bercampur, larutan menjadi dua lapisan. Lapisan bawah adalah air karena air massa jenisnya lebih besar dibandingkan dengan eter. Dan ketika asam asetat ditambahkan dengan aquadest warnanya tetap bening, ini berarti asam asetat dapat larut dala air. Dan pada etanol ketika ditambahkan aquadest warnya bening ini menandakan bahwa etanol dapat larut dala air (aquadest). Hal ini dipengaruhi oleh sifat kedua larutan ini sama yaitu bersifat polar.
Kemudian masing-masing campuran tadi yaitu sampel yang ditambahkan aquadest diuji dengan kertas lakmus biru. Pada tabung yang berisi campuran asam asetat dan aquadest menunjukkan perubahan warna pada kertas lakmus biru yaitu berubah menjadi merah, ini menandakan larutan bersifat asam. Pada tabung yang berisi campuran fenol dan aquadest tidak menunjukkan perubahan warna pada kertas lakmus, ini menandakan bahwa larutan bersifat basa. Dan pada campuran eter dengan aquadest tidak menunjukkan perubahan warna, hal ini berarti eter juga tidak bersifat asam melainkan basa. Dan pada campuran etanol dan aquadest terjadi perubahan warna yaitu kertas lakmus berubah menjadi warna merah, ini membuktikan bahwa etanol ternyata bersifat sebgai asam walaupun perubahan warnaya hanya sedikit.
Dari uji-uji diatas ternyata pada setiap sampel berbeda sifat-sifatnya baik itu warnanya, kelarutannya dalam air dan keasamannya. Hal ini disebabkan oleh perbedaan gugus fungsional yang terikat pada setiap senyawa. Sehingga hal ini juga memberikan ciri khas tertentu bagi setiap sampel.















BAB V
PENUTUP

5.1. KESIMPULAN
Pada setiap sampel (fenol, eter, asam asetat, dan etanol) berbeda sifat-sifatnya baik itu warnanya, kelarutannya dalam air dan keasamannya.
Perbedaan sifat-sifat dari sampel salah satunya disebabkan oleh perbedaan gugus fungsi yang terikat pada senyawa organic.
Perubahan warna kertas lakmus yang ditimbulkan oleh masing-masing larutan membuktikan perbedaan tingkat keasaman dari setiap campuran larutan. Walaupun penggunaan kertas lakmus tidak sedetail pH-meter yang secara rinci memberikan data yang jelas atas perbedaan pH dari masing-masing larutan.





5.2. KEMUNGKINAN KESALAHAN

1. Kurang praktikan dalam merangkai alat, sehingga mengakibatkan kesalahan pada percobaan.
2. kurang telitinya praktikan dalam mengamati timbulnya gas ketika dilarutkan.
3. Kesalahan dalam mencampur larutan (takaran masing - masing)
4. Kesalahan dalam mengamati kelarutan dari senyawa (sampel).





DAFTAR PUSTAKA

Team Teaching Kimia Anorganik. 2008. Modul Praktikum. Gorontalo:UNG
Fessenden & Fessenden, 1982. Kimia Organik Edisi ketiga jilid 1 dan 2. jakarta : Erlangga.
Drs Parlan M.Si 2003. Kimia Organik I. Malang JICA
http://id.wikipedia.org/wiki/Hidrokarbon
http://id.wikipedia.org/wiki/Fenol
http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_alkanoat
http://su.wikipedia.org/wiki/Gliserol
Team Teaching. Penuntun Praktikum Kimia Organik I. 2010. FMIPA : UNG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar